Romantisisme dalam Teks Sastra: Merayakan Perasaan, Mengabaikan Pikiran | Dr. Turahmat, S.Pd., M.Pd.



Romantisisme dalam Teks Sastra: Merayakan Perasaan, Mengabaikan Pikiran

 

Penulis

Dr. Turahmat, S.Pd., M.Pd.

 

Cetakan pertama, Februari 2025

 

Penyunting

Setia Naka Andrian

 

Gambar Sampul

Dokumentasi Penulis (diambil di Wintosh Cafe Reban)

 

Desain Sampul dan Tata Letak

Sangkar Arah Grafis

 

13 x 20 cm; x + 102 halaman

 

ISBN: 978-623-5392-23-3

 

Penerbit

Lembaga Pelatihan Kerja Sangkar Arah

Jl. Kyai Langen Dukuh Wedari RT. 01/RW. 05

Desa Tanjungmojo, Kec. Kangkung, Kab. Kendal,

Jawa Tengah, Indonesia, Kode Pos 51353

Website: sangkararahpustaka.com

Pos-el: sangkararah@gmail.com

Ponsel/WA: +6285640230681

 

Dilarang menggandakan dan kemudian menyebarkan

baik sebagian atau keseluruhan isi buku ini kepada khalayak tanpa seizin penerbit.



Sinopsis

Dalam buku Romantisisme dalam Teks Sastra: Merayakan Perasaan, Mengabaikan Pikiran ini, karya romantisisme tidak menggambarkan dunia apa adanya (realistis), melainkan bagaimana dunia tersebut ingin dirasakan oleh perasaan manusia yang mendalam. Aliran ini berfokus pada luapan emosi, imajinasi, dan keindahan dramatis, bukan pada fakta objektif yang benar-benar terjadi. Dengan demikian, romantisisme cenderung melarikan diri dari realitas yang sesungguhnya dan lebih memilih menghadirkan dunia ideal melalui impian dan hasrat batin. Singkatnya, romantisisme melukiskan dunia sesuai dengan keinginan hati dan imajinasi (dunia ideal), sekaligus secara halus menolak fakta atau realitas kehidupan sehari-hari.

Imajinasi menjadi jembatan ketika realitas tidak lagi mampu memahami dirinya sendiri. Imajinasi juga merupakan tirai yang dapat dibuka kapan pun untuk menyingkap lapisan-lapisan makna lain dalam realitas yang disuguhkan. Dengan kata lain, imajinasi adalah realitas di balik realitas.

Dalam romantisisme, dunia pedesaan dan pedalaman dipandang sebagai ruang yang suci, murni, dan melankolis, yang menawarkan pelarian dari dampak industrialisasi serta kebobrokan kehidupan kota. Alam pedesaan dilihat sebagai cerminan emosi manusia yang intens dan mistis, sekaligus menghadirkan keindahan yang mempromosikan nilai-nilai kebaikan, kesederhanaan, dan koneksi spiritual antara manusia dan alam. Oleh karena itu, pedesaan dianggap sebagai tempat yang tetap murni dan jauh dari kerusakan moral kota, bahkan menjadi pusat kekaguman atas keindahan lanskap yang damai dan alami.




















































































































Komentar